11 Januari 2007
Bandara
Soekarno-Hatta tak begitu banyak berubah
hanya saja lebih bagus. Yah waktu Lima tahun bukan waktu yang sangat singkat .
Lima tahun yang lalu aku masih SMA disini, waktu lulus saja aku tidak ikut
wisuda perpisahan SMA-ku , ah……..bagaimana bagunan sekolahku yang terletak
dikampung itu ? kupikir tentu saja sudah lebih bagus . Dan bagaimana kabar
teman sepermainanku, si Dinka ?
Seusai Ujian Nasional aku langsung dikirim ke USA untuk
sekolah disana, selama 4 tahun aku menyelesaikan kuliahku di Universitas
Michigan di Bidang Jurnalistik, tepat setelah kelulusanku aku direkomendasikan
menjadi asisten ketua redaksi di Time news Magazine.
Dan saat ini aku sedang dalam
angkot terjebak macet oleh ruwetnya Jakarta
menuju kampungku Ci Jantung. Setibaku di rumah sambutan hangat keluarga menyambutku, tak kuduga Aah dan Ibu
juga telah menyempatkan diri untuk membuat syukuran atas kepulanganku padahal
bisnis jamur mereka telah sedimikian menyedot perhatian sehingga jarang sekali
untuk sekedar meneleponku atau terkadang aku yang tak bisa mendengar suara
kedua orang tuaku itu. Hmmm ……. Jadi ingat saat kecil dulu, bancaan diatas
tampah dengan beralaskan daun pisang dan suasana rebutan makan plus uang receh…
benar-benar pemandangan yang tak akan
mungkin ku temui disana.
20 Januari 2007
Sudah seminggu lebih aku mencari
Dinka, bukan! 9 hari dengan hari ini, aku mencarinya keseluruh penjuru kampung.
Saat akhirnya aku tau bahwa Dinka sudah pindah kampung aku mencarinya namun
nihil. Warga kampung tempat tinggal Dinka tinfak memberiyahuku dimana Dinka ,
mereka cuman mengaku bahwa Dinka dan keluarganya pindah kekampung itu, tapi
mereka tak secuilpun member setitik
cahaya informasi padaku.
Aku lelah dan berjalan pulang,
ditengah perjalanan aku berpapasan dengan Ardi teman SMA-ku dulu . aw, saat
bertatapan muka dengannya aku tersenyum, hm……. Kenapa Ardi mengeryit ? apa ia
sudah lupa padaku ? tak kusangka ardi tersenyum, senyumnya yang tenang seperti
dulundan menyapaku, ah,getaran 5 tahun lalu masih saja menyeruak.
“Risha
! apa kabar, baru kembali ?”
“Yah
beginilah, Sembilan hari lalu, kamu jelasbaik kan? Kalau tidak mana mungkin
naik sepeda kayak gini ! pasti pakai kursi roda iya kan ?” candaku.
“hha
hha hha …….”ah tertawanya juga masih sama segarnya dan renyah.
Oh, ya mungkin Ardi tahu tentang
Dinka ! dimana ia sekarang dan apa yang terjadi dengan sahabatku itu ? kenapa
menghilang begitu saja ? seharusnya ia sudah menjadi kekasihnya Ardi kan?
Lima tahun yang lalu saat
semester dua aku menyimpan rasa cintaku pada Ardi, karena aku tahu dinka amat
mencintainya. Dan aku memutuskan untuk mengikuti ujian beasiswa ke USA untuk
menghindari rasa sakit jika Dinka benar-benar akan mengungkapkan perasaannya
pada Ardi. Yang aku tahu saat itu bahwa Ardi juga punya perasaan yang sama
dengan Dinka, aku pengecut karna aku tak berani melihat semuanya dan Damn it,
aku terbang ke negeri paman sam. Dua tahun yang lalu Dinka meneleponku dan
menangis entah kenapa, ia tak pernah mengatakannya padaku. Itulah telpon
terakhir Dinka. Aku rindu padanya ada sejuta pertanyaan dibenakku.
Aku menanyakan kabar
kuliahnya(Ardi), Woow….ternyata sama denganku Ardi sudah lulus S1-nya. Dan saat
ini ia sedang ujian untuk tesis master teknik-nya di Birmingham, aku
benar-benar surprised, wonderfullevent is it !
Waktu aku menanyakan kabar Dinka, kulihat ia sedikit terhenyak dan terdiam sesaat . Ardi berfikir sejenak dan kemudian meminta untuk lari pagi besok dengannya kegunung. Ardi akan menceritakan semua tentang Dinka. Betapa senangnya , besok untuk pertama kalinya aku berjalan berdua dengannya walau beribu pertanyaan menggema dihatiku tentang Dinka.
Waktu aku menanyakan kabar Dinka, kulihat ia sedikit terhenyak dan terdiam sesaat . Ardi berfikir sejenak dan kemudian meminta untuk lari pagi besok dengannya kegunung. Ardi akan menceritakan semua tentang Dinka. Betapa senangnya , besok untuk pertama kalinya aku berjalan berdua dengannya walau beribu pertanyaan menggema dihatiku tentang Dinka.
21 Januari 2007
Nafasku kembang kempis, Ardi
berlari dengan cepatnya diantara kebun teh, akhirnya aku berhenti dan meminta
Ardi mengantarku kepondok untuk beristirahat. Ardi mengulurkan sebotol air
mineral, kuminum beberapa tegak dan menyerahkannya kembali ke Ardi. Selepas
shalat subuh tadi aku dan ardi berlari. Fajar masih belum tampak karena waktu
subuh maju lebuh dari biasanya.
Ardi yang berdiri sambil tersenyum melihatku
ngos-ngosan kutarik tangannya aagar duduk disebelahku. Kulihat ia merenung dan
mendadak melihat tajam menembus mataku, jantungku brdetak seakan hendak
meloncat mau keluar, ia mendekatkan wajahnya kearahku ku kira Ardi mau apa !
ternyata …
“
Aku gak bakalan cium kamu kok, deg-degan ya ?”katanya sambil senyum jail
“Kamu
mau mendengar cerita tentang Dinkakan ? hh……”
Entahlah
kenapa ia mendesa pelan dan menerawang hamparan the didepannya.
Memang nya ada apa dengan Dinka
? kenapa ardi selalu mendesah jika menyebut nama dinka ? “Di…. What happened
with Dinka ? “
“Okey..
listen to me ! “
Ternyata saat Dinka meneleponku
dua tahun lalu, ia menangis karna
cintanya ditolak Ardi, Ardi telah mencintai seseorang sejak kelas 2 SMA. Dinka
sangatlahkecewa,namun ia tetap bia menerima dan tetap berteman dengan Ardi.
Sebulan dari kejadian itu perilaku Dinka berubah ia sering menyebut nama
seorang laki-laki dan keluyuran malam mengacak-ngacak rambut seperti orang
gila. Berselang 3 bulan ia sering hilang dari rumah dan berteriak di jalanan.
Ardi menduga pasti Dinka gila
karena cowok itu. Ardi meminta izin pada ibu Dinka untukmencari diary Dinka.
Dari diary akhirnya Ardi tahu cowok yang sering disebut Dinka adalah cowok yang
pernah menyatakan cinta pada Dinka namun Dinka menolaknya, yang Ardi tahu cowok
itu sudah meninggal. Ardi menduga cowok itulah yang membuat Dinka gila, dan
saat ini ia ada di RSJ Jakarta.
Aku menangis mendengar keadaan
Dinka sekarang, begitu tragisnya nasib Dinka.
“
sudahlah rish please, don’t cry ! I’ll be here foryou”ucap Ardi sambil mengusap
air mataku
“kamu
tau siapa yang aku cinta?”ujar Ardi menatap wajahku lekat, matanya serasa
belati menusuk mataku rasanya dadaku bergetar hebat.
Namun Ardi hanya tersenyum dan
memalingkan muka. Tersenyum menatap indahnya mentari yang timbul dari balik
gunung tersamar rimbunnya pepohonan.
Entahlah apa aku akan pernah
tahu,bahwa dibalik bilik hatinya ada diriku. Mungkinkah akan tahu ? diriku ini
? Dan kebenaran itu akhirnya kembali terbenam dalam kegelapan….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar