Minggu, 09 Desember 2012

asal coret ^^



11 Januari 2007
Bandara Soekarno-Hatta  tak begitu banyak berubah hanya saja lebih bagus. Yah waktu Lima tahun bukan waktu yang sangat singkat . Lima tahun yang lalu aku masih SMA disini, waktu lulus saja aku tidak ikut wisuda perpisahan SMA-ku , ah……..bagaimana bagunan sekolahku yang terletak dikampung itu ? kupikir tentu saja sudah lebih bagus . Dan bagaimana kabar teman sepermainanku, si Dinka ?
                Seusai Ujian  Nasional aku langsung dikirim ke USA untuk sekolah disana, selama 4 tahun aku menyelesaikan kuliahku di Universitas Michigan di Bidang Jurnalistik, tepat setelah kelulusanku aku direkomendasikan menjadi asisten ketua redaksi di Time news Magazine.
                Dan saat ini aku sedang dalam angkot terjebak macet oleh ruwetnya Jakarta  menuju kampungku Ci Jantung. Setibaku di rumah sambutan hangat  keluarga menyambutku, tak kuduga Aah dan Ibu juga telah menyempatkan diri untuk membuat syukuran atas kepulanganku padahal bisnis jamur mereka telah sedimikian menyedot perhatian sehingga jarang sekali untuk sekedar meneleponku atau terkadang aku yang tak bisa mendengar suara kedua orang tuaku itu. Hmmm ……. Jadi ingat saat kecil dulu, bancaan diatas tampah dengan beralaskan daun pisang dan suasana rebutan makan plus uang receh… benar-benar pemandangan  yang tak akan mungkin ku temui disana.

20 Januari 2007
                Sudah seminggu lebih aku mencari Dinka, bukan! 9 hari dengan hari ini, aku mencarinya keseluruh penjuru kampung. Saat akhirnya aku tau bahwa Dinka sudah pindah kampung aku mencarinya namun nihil. Warga kampung tempat tinggal Dinka tinfak memberiyahuku dimana Dinka , mereka cuman mengaku bahwa Dinka dan keluarganya pindah kekampung itu, tapi mereka tak secuilpun member  setitik cahaya informasi padaku.
                Aku lelah dan berjalan pulang, ditengah perjalanan aku berpapasan dengan Ardi teman SMA-ku dulu . aw, saat bertatapan muka dengannya aku tersenyum, hm……. Kenapa Ardi mengeryit ? apa ia sudah lupa padaku ? tak kusangka ardi tersenyum, senyumnya yang tenang seperti dulundan menyapaku, ah,getaran 5 tahun lalu masih saja menyeruak.
“Risha ! apa kabar, baru kembali ?”
“Yah beginilah, Sembilan hari lalu, kamu jelasbaik kan? Kalau tidak mana mungkin naik sepeda kayak gini ! pasti pakai kursi roda iya kan ?” candaku.
“hha hha hha …….”ah tertawanya juga masih sama segarnya dan renyah.
                Oh, ya mungkin Ardi tahu tentang Dinka ! dimana ia sekarang dan apa yang terjadi dengan sahabatku itu ? kenapa menghilang begitu saja ? seharusnya ia sudah menjadi kekasihnya Ardi kan?
                Lima tahun yang lalu saat semester dua aku menyimpan rasa cintaku pada Ardi, karena aku tahu dinka amat mencintainya. Dan aku memutuskan untuk mengikuti ujian beasiswa ke USA untuk menghindari rasa sakit jika Dinka benar-benar akan mengungkapkan perasaannya pada Ardi. Yang aku tahu saat itu bahwa Ardi juga punya perasaan yang sama dengan Dinka, aku pengecut karna aku tak berani melihat semuanya dan Damn it, aku terbang ke negeri paman sam. Dua tahun yang lalu Dinka meneleponku dan menangis entah kenapa, ia tak pernah mengatakannya padaku. Itulah telpon terakhir Dinka. Aku rindu padanya ada sejuta pertanyaan dibenakku.
                Aku menanyakan kabar kuliahnya(Ardi), Woow….ternyata sama denganku Ardi sudah lulus S1-nya. Dan saat ini ia sedang ujian untuk tesis master teknik-nya di Birmingham, aku benar-benar surprised, wonderfullevent is it !
                Waktu aku menanyakan kabar Dinka, kulihat ia sedikit terhenyak dan terdiam sesaat . Ardi berfikir sejenak dan kemudian meminta untuk lari pagi besok dengannya kegunung. Ardi akan menceritakan semua tentang Dinka. Betapa senangnya , besok untuk  pertama kalinya aku berjalan berdua dengannya walau beribu pertanyaan menggema dihatiku tentang Dinka.

21 Januari 2007
                Nafasku kembang kempis, Ardi berlari dengan cepatnya diantara kebun teh, akhirnya aku berhenti dan meminta Ardi mengantarku kepondok untuk beristirahat. Ardi mengulurkan sebotol air mineral, kuminum beberapa tegak dan menyerahkannya kembali ke Ardi. Selepas shalat subuh tadi aku dan ardi berlari. Fajar masih belum tampak karena waktu subuh maju lebuh dari biasanya.
                Ardi  yang berdiri sambil tersenyum melihatku ngos-ngosan kutarik tangannya aagar duduk disebelahku. Kulihat ia merenung dan mendadak melihat tajam menembus mataku, jantungku brdetak seakan hendak meloncat mau keluar, ia mendekatkan wajahnya kearahku ku kira Ardi mau apa ! ternyata …
“ Aku gak bakalan cium kamu kok, deg-degan ya ?”katanya sambil senyum jail
“Kamu mau mendengar cerita tentang Dinkakan ? hh……”
Entahlah kenapa ia mendesa pelan dan menerawang hamparan the didepannya.
                Memang nya ada apa dengan Dinka ? kenapa ardi selalu mendesah jika menyebut nama dinka ? “Di…. What happened with Dinka ? “
“Okey.. listen to me ! “
                Ternyata saat Dinka meneleponku dua tahun lalu, ia menangis  karna cintanya ditolak Ardi, Ardi telah mencintai seseorang sejak kelas 2 SMA. Dinka sangatlahkecewa,namun ia tetap bia menerima dan tetap berteman dengan Ardi. Sebulan dari kejadian itu perilaku Dinka berubah ia sering menyebut nama seorang laki-laki dan keluyuran malam mengacak-ngacak rambut seperti orang gila. Berselang 3 bulan ia sering hilang dari rumah dan berteriak di jalanan.
                Ardi menduga pasti Dinka gila karena cowok itu. Ardi meminta izin pada ibu Dinka untukmencari diary Dinka. Dari diary akhirnya Ardi tahu cowok yang sering disebut Dinka adalah cowok yang pernah menyatakan cinta pada Dinka namun Dinka menolaknya, yang Ardi tahu cowok itu sudah meninggal. Ardi menduga cowok itulah yang membuat Dinka gila, dan saat ini ia ada di RSJ Jakarta.
                Aku menangis mendengar keadaan Dinka sekarang, begitu tragisnya nasib Dinka.
“ sudahlah rish please, don’t cry ! I’ll be here foryou”ucap Ardi sambil mengusap air mataku
“kamu tau siapa yang aku cinta?”ujar Ardi menatap wajahku lekat, matanya serasa belati menusuk mataku rasanya dadaku bergetar hebat.
                Namun Ardi hanya tersenyum dan memalingkan muka. Tersenyum menatap indahnya mentari yang timbul dari balik gunung tersamar rimbunnya pepohonan.
                Entahlah apa aku akan pernah tahu,bahwa dibalik bilik hatinya ada diriku. Mungkinkah akan tahu ? diriku ini ? Dan kebenaran itu akhirnya kembali terbenam dalam kegelapan….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar